dikutip dari cerita Irza Irawan
Suara gerimis terus memacu dalam keheningan malam yang panjang, udara dingin terus meresap kulit, angin terus bergumpal-gumpal seakan mau menghancurkan udara malam, rasanya jaket yang kukenakan tidak cukup untuk menahan ganasnya dingin, kuliat wajah istriku yang nampak lebih anggun di balut mukena sucinya, kami sudah melaksanakan shalat malam bersama , meraih cinta ilahi dalam sepertiga malam, berjuang bersama dalam ikatan doa sebagai simpul kelemahan, sebagai hambaNya yang kadang merasa kurang di balik kemampuan yang telah di anugerahkan, kibaran sejuknya air wudhu nampak masih kurasakan di setiap inchi kulitku.
Istriku bernama Anna, dia adik kelasku semasa SMA sekaligus patner diskusiku dalam hal keagamaan, kami memang sudah lama saling mengenal namun baru akrab setelah kami memasuki dunia perkuliahan, kedekatan kami semakin erat ketika bersama-sama masuk dalam organisasi Lembaga Dakwah Kampus, dan akhirnya ikatan pun terwujud, aku bersanding dengan seorang perempuan yang selalu kupanggil bidadari dalam setiap puisi-puisiku yang tercipta, hal yang selama ini kumimpikan tercapai.
Anna mencium telapak tanganku dan kemudian berjalan mengambil ayat suci Al Quran, sayup-sayup kudengar Surat Al-Mulk dia bacakan, kuresapi kemerduan suaranya seakan nyanyian para bidadari surga, sungguh menyentuh hati dan menajamkan pikiran, sementara itu aku mempersiapkan diri untuk menjemput rezeki demi sesuap makan, berjuang mengemban amanah sebagai seorang suami demi kebahagiaan istri yang kucintai, kubersihkan debu-debu yang menempel di sepeda bututku, Nampak butiran putih terbang melayang seakan kapas tertiup angin, menodai tiap butiran cahaya bulan yang menyinari halaman rumahku.
“ Kak Tria, ini kopi hangatnya diminum dulu. “
Suara lembut dari Anna membuyarkan lamunanku, bayangan terik mentari serta serangan debu saat menapaki jalan untuk menjemput rezeki mulai menghilang.
“ Gimana penjualan bukunya kak? “
“ Alhamdulillah, buku kakak laku keras, maklumlah selama nulis kan dik Anna yang jadi sumber inspirasi. “
Pujianku yang terlalu berlebihan sayup-sayup membuat bibir tipis istriku tersenyum, wajahnya yang putih terlihat semakin manis saja.
“ Ya udah tuan pangeran, itu kopinya di habiskan dulu, nanti telat berangkatnya. “
“ Oke deh tuan puteri. “
Kehidupanku memang sederhana, aku hidup dibalik kertas dan pena, menulis setiap kejadian yang selalu menelisik hati, membingkainya dalam kalimat yang liku, melincah dan kadang bernyanyi, sehingga menjadi sumber cerita yang dapat dibaca setiap orang, aku berangkat dengan lambaian tangan istriku, untuk mengantarkan naskah dari novel baruku ke penerbit, mencoba saling berbagi dengan setiap orang lewat tulisan yang kadang masih sangat kurang dan perlu perbaikan, kemampuan menulisku memang masih minim sehingga aku terbiasa berdiskusi dengan para penulis senior yang sangat kukagumi, ada kang Oleh Solihin yang biasanya selalu meneliti rangkaian kata yang kutulis, ada mas Taufiqqurahman Al Azizy yang selalu membimbingku untuk menulis tentang hal perenungan, ada mas Salim A Fillah yang biasanya terus mengkaji makna hadist yang kutulis, terus ada mas Fahri Asiza yang kadang membimbingku saat tulisanku mubazir kata, serta beberapa penulis lain yang nama-namanya tidak bisa kusebutkan satu per satu, begitu banyak saran-saran dari para seniorku yang menjadi sumber ilmu meski kemampuanku terlalu kurang untuk menangkap ilmu-ilmu mereka.
***
Matahari mulai menampakkan senyumannya di langit biru, hawa panas yang menyelimuti kulit mulai terasa, mataku menelisik di sepanjang jalan dimana muda mudi berseragam sekolah tanpa ikatan pernikahan sedang berboncengan sambil berpelukan di atas kendaraan, aku terus melangkahkan kaki sampai melihat orang pacaran di samping jalan, saling berpegangan tangan tanpa peduli kepada siapapun, umbaran aurat begitu banyaknya kulihat di persimpangan taman, begitu banyaknya kilauan rambut dari para gadis belia sehingga membuat mataku tak bisa menahan, pakaiannya pun benar-benar seperti orang miskin yang kekurangan kain, terlalu kontras menampakkan tubuh mereka, dasar godaan, pantas saja tingkat perkosaan semakin merajalela kalau suguhan-suguhan seperti ini terus dibiarkan.
Aku terus berjalan tanpa menghiraukan setiap kejadian, kepalaku terlalu sakit untuk memikirkan tiap godaan seperti ini, perutku mulai keroncongan karena saatnya di isi makanan, ku dekati warung makan yang berdekatan dengan lampu lalu lintas, sepiring nasi goreng dan teh hangat mulai mengukir senyuman di bibirku, di tambah kecap manis, bawang goreng, dan kerupuk renyah sebagai pelengkap aneka rasa makanan, benar-benar penambah semangat selera makan.
“ Bro, hasil panen kita sekarang melimpah banget, ternak kita semakin banyak sehingga uang yang kita dapat semakin menumpuk. “
“ Tentu dong, kita kan pekerja keras. “
Sambil makan kudengar pembicaraan dua orang laki-laki di sampingku, wah rupanya mereka mendapat rezeki melimpah dari Allah, barangkali mereka mau mengadakan acara syukuran sebagai wujud terima kasih kepada Allah, ku teguk teh hangat untuk membasahi tenggorokan, lalu aku kembali menyimak pembicaraan dua lelaki ini.
“ Gimana kalau malam ini kita ajak warga sekampung, kita pesta besar-besaran, kita begadang sampai malam, mesan minuman keras segudang, dan tidak lupa wanita penghibur sebagai bonus suasana, hehehe… “
“ Pas banget tuh, dengan uang sebanyak ini kita bisa berjudi sampai kering, siapa tau kali ini menang, jadi uang kita semakin numpuk. “
“ Uhhuuuueekk…. Uhhueekk… “ tak sengaja aku tersedak ketika mendengar pembicaraan mereka. Gendang telingaku serasa mau pecah, apa tidak salah, berbagai nikmat dan karunia yang Allah berikan malah di balas dengan berbagai kemaksiatan, jantungku berdegup kencang seakan mau keluar dari dadaku, tubuhku bergetar hebat, rasanya aku tidak berpijak di bumi karena tidak tahan mendengar segala ocehan mereka, mulai mencari pelacur sampai penari perut, dari judi sampai minuman keras, serasa membuat telingaku meledak saja, rasanya ingin secepatnya pergi menjauh dari mereka, tapi nasi gorengnya enak, habisin dulu.
Aku berjalan pulang menuju rumah dengan rasa gemetar yang luar biasa, aku memang bukan malaikat yang bebas dari dosa, tapi sungguh aku berlindung kepada Allah dari kelemahanku sebagai makhluk yang kadang bisa terperdaya syaitan, sering aku merenung, saat memegang air panas di dalam gelas saja rasanya tidak kuat, panasnya minta ampun dah, apalagi sampai terjerumus ke lembah neraka yang jikalau penghuninya di keluarkan dan di taruh di bumi ini, maka seluruh dunia akan terbakar, karena betapa panasnya neraka itu, kemaksiatan nikmat sementara diganti dengan keperihan yang luar biasa lamanya, nauzubillah.
Di sudut jalan, kulihat orang-orang yang teler sempoyongan karena minuman keras, jalannya seperti mobil kehabisan bensin saja, jarakku dan jarak mereka semakin dekat.
“ Haloo Tria, pulang dari mana lo? “
Sapaan dari orang teler ini membuatku kaget, maklum teman satu kampung jelaslah tahu sama namaku, meskipun aku tidak mengenal siapa mereka
“ Pulang dari pengajian, kenapa? “
“ Hehehe, mau nyoba minum ini gak, enak lo.., masalah seakan lenyap di telan bumi.“ Orang gila ini menyodorkan segelas minuman kepadaku, akupun menatap sinis kepadanya.
“ Maaf gak minat, sudah ya aku pulang dulu. “
Aku berlari sekencang-kencangnya meninggalkan mereka, kalaupun ada mobil F1 ingin kukendarai saja dengan kecepatan maksimum, yang penting bisa menuju rumah secepatnya dan menjauh dari mereka.
Aku pulang ke rumah dengan keringat membanjir, namun senyumku mengembang karena bisa menjauh dari kemaksiatan, saat mendekat pintu rumahku serasa menemukan mutiara saja, kebahagiaan memuncak karena segala daya upaya lembah syaitan telah kulumpuhkan.
“ Assalamualaikum “
“ Waalaikum salam. “ Jawaban salam dan ukiran senyuman dari bibir manis istriku menyambutku, kulepas sepatu dan kemejaku, sementara itu Anna sudah menyiapkan segelas air putih sebagai peredam dahagaku, cuaca mulai gelap, ukiran senyuman matahari mulai meredup deganti dengan sapaan wajah bulan.
“ Capek ya kak, air hangat sudah adik siapin, mandi dulu biar wangi. “
“ Iya makasih dik. “
Aku berlalu dari istriku untuk menuju kamar mandi, membasahi setiap inchi tubuhku agar semangat dan tenaga pulih kembali.
***
Suara musik dari sebelah rumahku begitu gaduh, ternyata pesta yang di diskusikan warga kampung tadi tidak main-main, saat aku pulang dari mushala untuk shalat isya tadi saja jalanan sudah begitu ramai, terlihat beberapa meja di jalanan sebagai arena pertarungan judi, begitu banyak botol minuman keras terpampang jelas, apalagi wanita penghibur yang sungguh merusak suasana, aku berjalan pulang ke rumah dengan cepat, tanpa peduli dengan kumpulan orang gila yang membalas nikmat Allah dengan kemaksiatan itu.
Semakin lama suara musiknya serasa memecahkan gendang telinga saja, kulihat istriku di samping juga tidak bisa tidur dengan tenang, karena kerasnya suara itu.
“ Dik, sabar ya…., doakan saja semoga pesta mereka cepat usai, jadi kita bisa tidur dengan tenang. “
“ Iya kak. “
Kupeluk tubuh istriku dengan ribuan kasih sayang, mencoba memejamkan mata agar bisa menenangkan pikiran, dengan perlahan kedua mataku mulai menutup, kesadaranku mulai menghilang, dan buai-buai mimpi mulai hadir menemani imajinasi dari butiran syaraf otakku.
“ Dhhuuuuaarrrrrrrr……..!!!!!!! “
Suara ledakan yang begitu keras mengagetkanku, hampir saja aku melompat dari tempat tidur, terdengar suara teriakan para penikmat pesta itu, getar suara ketakutan menyelusup di telingaku.
(bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar